Lauhul Mahfuz: Takdir bukanlah Jalan Cerita

Lauhul Mahfuz (bukan gambar sebenarnya)

Lauhul Mahfuz(hanya ilustrasi, bukan sebenarnya)

Pengertian

Bagi yang belum tahu apa itu Lauhul Mahfuz, mari, saya kasih penjelasan. Lauhul Mahfuz jika secara harfiah diterjemahkan sebagai tablet/lempengan/kitab yang terpelihara. Namun secara istilah, Lauhul Mahfuz adalah kitab yang berisi seluruh kejadian di alam semesta mulai dari permulaan zaman sampai akhir zaman. Mengenai darimana asal kata Lauhul Mahfuz sendiri di dalam Al-Qur’an disebutkan secara eksplisit di dalam surat Al-Buruuj (surah 85) ayat 22 yaitu Lauhim-Mahfuz, sedangkan di ayat-ayat lainnya, Lauhul Mahfuz disebutkan sebagai Kitab, Ummul-Kitab, Kitabim-Mubiin, Kitabim-Maknuun, dan Az-Zikr. Adapun bagaimana bentuk dan isi dari Lauhul Mahfuz sendiri hanya Allah yang tahu. Saya di sini hanya mengemukakan ijtihad atau pandangan saya tentang konsep takdir dan Lauhul Mahfuz.

Takdir, sesuai pelajaran yang saya dapat dari SD, terbagi menjadi dua, yaitu takdir mubram dan takdir mu’allaq. Takdir mubram adalah takdir yang tidak bisa diubah, sifatnya itu absolut, contohnya pergerakan matahari dan bulan, bernafasnya manusia dengan menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida, dan sebagainya. Sedangkan takdir mu’allaq adalah takdir yang bisa diubah, sifatnya relatif, contohnya kekayaan, kecerdasan, dan lain-lain.

Takdir juga bisa dipandang dari waktunya, yaitu apa yang disebutkan dalam rukun iman keenam: Beriman kepada Qada’ dan Qadar. Qada adalah sesuatu yang sudah ditetapkan dari awal penciptaan alam semesta, sedangkan Qadar adalah sesuatu yang sudah terjadi.

Lauhul Mahfuz is not A Story-Line

Pernah suatu ketika saya menyimak sebuah diskusi tentang takdir dan Lauhul Mahfuz. Ada yang berpendapat bahwa takdir adalah suatu skenario atau jalan cerita yang sudah ditetapkan oleh Allah dan tidak bisa diubah lagi, skenario tersebut ada di dalam kitab yang bernama Lauhul Mahfuz.

Dari situ timbul pertanyaan dalam benak saya, jika semua yang terjadi dalam hidup ini adalah sebuah jalan cerita yang sudah ditentukan alurnya, untuk apa manusia berusaha? Lebih jelasnya lagi, mengapa Allah menyuruh kita untuk mengubah takdir kita sendiri? Toh nantinya hasilnya sama saja, sesuai dengan apa yang ditentukan oleh Allah. Tapi kenyataannya apa yang terjadi dalam hidup ini bukanlah seperti itu. Saya bependapat bahwa Lauhul Mahfuz tidak mungkin seperti novel atau buku cerita.

Setelah saya membaca dan belajar lebih jauh tentang hal itu, akhirnya saya menemukan sebuah gambaran yang tepat dan mudah untuk menjelaskan konsep takdir dan Lauhul Mahfuz. Lauhul Mahfuz bukanlah sebuah jalan cerita, melainkan berisi formula-formula atau rumus-rumus yang Allah tetapkan sebagai hukum alam.

Terkait dengan dua jenis takdir yang sebelumnya saya paparkan, yakni takdir mubram (absolut) dan takdir mu’allaq (relatif), saya akan menjelaskannya dengan pelajaran matematika tentang persamaan.

Takdir mubram yang sifatnya absolut dapat saya analogikan dengan persamaan A=2. Nilai A tidak dapat diubah meskipun kita berusaha sekeras apapun, tetap saja nilai A=2. Takdir mubram inilah yang hampir mirip dengan sebuah alur cerita, namun tetap saja Allah bisa berkehendak untuk mengubahnya (penjelasan mengenai alasannya ada di bagian selanjutnya, baca lebih lanjut).

Sedangkan takdir mu’allaq yang sifatnya relatif, dapat saya analogikan dengan persamaan A=2B+1. Nilai A dapat kita ubah dengan cara bekerja keras.

  1. Jika usaha kita (dilambangkan dengan B) bernilai 2, maka hasilnya (dilambangkan dengan A) bernilai 5.
  2. Demikian pula jika kita bekerja lebih keras sehingga nilai B menjadi 3, nilai A pun menjadi lebih besar, yakni 7.
  3. Dan sebaliknya, jika usaha kita kecil misalnya benilai 1, hasilnya pun akan kecil, yaitu 3.

Peran Do’a Manusia dan Kehendak Allah (Faktor X)

Saya pernah menyampaikan pandangan saya ini kepada seorang teman untuk dimintai pendapatnya, sehingga muncul pertanyaan dari dia seperti ini: Jika takdir yang tertulis dalam Lauhul Mahfuz dianalogikan seperti rumus-rumus atau persamaan-persamaan, berarti Allah itu pasif dan tidak lagi mengurus alam semesta ini secara aktif? Alam semesta ini layaknya sebuah mesin otomatis ya? Lalu untuk apa kita berdo’a jika Allah tidak bisa mengubah ketetapannya sendiri?

Dari pertanyaan itu, saya pun menyempurnakan pemikiran saya yang tadi. Peran do’a dan kehendak Allah dapat dianalogikan seperti persamaan seperti ini:

A=2B+1+X

Dengan asumsi A sebagai hasil, B sebagai usaha, dan X sebagai kehendak Allah sendiri atau kehendak-Nya berdasarkan do’a manusia.¬†Jadi kesimpulannya, do’a manusia dan sifat Allah Yang Maha Berkehendak juga berperan dalam menentukan takdir. Orang-orang biasanya menyebutnya dengan Faktor X.

Takdir adalah Pilihan dari Kesempatan (Choice of Chance)

Itu adalah penggambaran bagaimana pilihan kita menentukan takdir yang akan kita hadapi nantinya. Analogi tersebut menggambarkan bahwa segala sesuatunya memang sudah ditentukan sejak awal, namun bagaimana nantinya akan sesuai dengan pilihan kita sendiri. Coba lihat gambar di atas, jika saya naik motor, maka saya dihadapkan dua pilihan yaitu lewat jalan raya atau lewat jalan kecil. Jika saya memilih lewat jalan raya, maka saya tidak akan bertemu dengan teman lama, melainkan akan dihadapkan ke dua pilihan selanjutnya. Namun tidak setiap pilihan berujung pada akhir yang berbeda, bisa saja ada dua pilihan yang berakhir pada hasil yang sama.

Kesimpulan

Ini hanyalah hasil pemikiran saya, pendapat mengenai takdir dan Lauhul Mahfuz yang sering disalahartikan sebagai sesuatu yang mutlak dan tidak bisa diubah lagi. Padahal Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Ar-Ra’d ayat 11 yang artinya:

¬†…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka…

Maka dari itu, sesungguhnya Allah memberi kebebasan pada makhluk-Nya untuk memilih, berusaha, dan berdoa. Namun semuanya itu tetap berjalan sesuai ketentuan Allah yang tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuz. Ketentuan yang dimaksud di sini bukanlah sebuah kisah atau alur cerita, melainkan sebuah bahasa pemrograman yang Allah ciptakan dengan variabel dan konstanta yang ada, atau mungkin seperti rumus logika IF dalam Microsoft Excel.

Demikian yang dapat saya bagikan. Kesalahan datang dari saya pribadi dan kebenaran datang dari Allah. Wallahu a’lam.

Referensi:

  • Al-Qur’an[Surah:Ayat]
    1. 6:59
    2. 7:37
    3. 10:61
    4. 11:6
    5. 13:11
    6. 13:39
    7. 17:58
    8. 21:105
    9. 22:70
    10. 27:75
    11. 34:3
    12. 35:11
    13. 36:12
    14. 43:4
    15. 56:78
    16. 57:22
    17. 85:22
  • id.wikipedia.org
  • perlop1.wordpress.com
  • http://www.hajsmy.us
  • hamidcell.files.wordpress.com
About these ads

81 thoughts on “Lauhul Mahfuz: Takdir bukanlah Jalan Cerita

  1. Alhmdllh.. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki hidup.

    penjelasan’nya pake rumus2 gitu ya,, jadi keingetan alat pengukur pikiran, n dari situ bener2 yakin kalo do’a berjamaah output’nya bakal dipangkatkan jadi hasilnya berkali2 lebih besar..

  2. Taqdir setiap manusia mmng sdh digariskn oleh ALLAH, jika sdh trjadi maka sbagai seorg yg briman hrs meyakini seyakin2nya bhw dibalik ktetapn ALLAH tsb ssunggunyah mmiliki suatu Hikmah dan Mnfaat Yg Sngt Agung utk kmaslahatn diri kt dan klrg. Nmn Al Hamdulillh TAQDIR itu Misterius Problm ssuatu yg dirahasiakn ALLAH, oleh karenanya Taqdir itu hrs kt cari krn hdp itu bkn menunggu taqdir mlainkan hrs mncarinya dgn 4 pndekatan yaitu : Ikhtiar, Doa, Iman, dan sikapi dgn penuh rasa Keikhlasan jika ssuatunya tlh trjadi…!

    • Takdir memang misterius dan tidak kita ketahui, maka dari itu kita harus berbuat yang terbaik untuk menentukan takdir kita yang telah ditentukan oleh Allah dengan cara berikhtiar dan berdoa Terima kasih atas kunjungannya bung Haen.

  3. Assalamualaikum wr.wb.waktu dan masa itu tak mungkin berputar ulang,kalo yg namanya merubah nasib itu berarti kemaren nasib kita apes kita ubah nasib kita yg kemaren jadi mujur kan ya?,gk mungkin kita bisa merubah nasib kita besok sebelum kita tau nasib didepan sbenarny itu kita baik ato buruk,miskin apa kaya,enak ato susah,yg namanya merubah nasib itu berarti kita merubah dari awal kita hidup sampai nanti kita mati,apa bisa ustad?keterbatasan manusia itu mutlak di sisi ALLAH,memang tauhid kita harus di perdalam kalo bicara soal takdir dan nasib,menempatkan moment sedang apa kita sekarang kalo bicara soal takdir dan nasib,itu harus di rasa dengan hati bukan dengan logika atau akal manusia kan ya?sbgai seorang awam saya minta penjelasanya ustad

    • Alaikumussalam wr. wb. saudara Ahmad. Terima kasih tanggapannya. Pertama, saya kira saya masih sangat sedikit ilmunya untuk bisa dipanggil dengan sebutan ustad. Kedua, dalam pemahaman saya, takdir/nasib itu adalah suatu peristiwa, sepenggal kisah hidup, bukan seluruhnya. Mengenai nasib yang sudah terjadi, hal itu tidak bisa kita rubah mau bagaimanapun caranya. Waktu maju terus ke depan kan? Namun, untuk nasib di masa depan, Allah telah menyediakan berbagai pilihan nasib untuk kita. Contohnya saja, jika mau pintar, ya belajar. Mau bodoh, ya malas saja sana. Jika mau sehat, hiduplah teratur dan makan makanan yang seimbang. Mau sakit, hidup dan makan saja seenaknya sendiri. Begitu kira-kira. Kita bisa menentukan nasib kita sendiri sesuai dengan pilihan yang Allah sediakan. Dan tak menutup kemungkinan atas sifat Maha Berkehendaknya, Allah mengubah pilihan-pilihan itu sesuai kehendaknya. Dan kita tidak tahu itu.

  4. Alkhamdulillah ada teman sharing buat masalah ini,bicara masalah kemauan kita,berpikir bahwa apa2 yg kita maui/kita inginkan berdasar atas kita sendiri,berarti kita menguasai atas apa yg akan kita lakukan,waktu bayi kita tdak tau bgaimana cara kita makan,mau makan yg bergizi biar sehat,mau belajar biar pinter,proses hidup yg terjadi wktu bayi mengingatkan bhwa ketidakberdayaan kita atas kemauan dan akal kita sendiri,proses campur tangan ALLAH lah yg menjadikan semua menjadi mungkin,kita tidak mengatur berapakali kita bernafas untuk hidup,berapa jantung kita memompa untuk keseimbangan organ tubuh kita,tidak harus belajar untuk tau krn kadang tiba2 ada orang yg ngasih tau,kadang kita tidak mau belajar tpi terpaksa kita harus belajar karena tuntutan kerja,keadaan2 yg kadang tidak maui tpi terjadi,kadang perkiraan kt tepat kadang tdak tepat,dengan bgt jdi pertanyaan seberapa besar kita sanggup menguasai berkuasa atas diri kita sendiri,tolong penjelasanya

    • Terima kasih tanggapannya saudara Ahmad. Mungkin Anda sedikit salah paham dengan tulisan ini. Saya pikir jika Anda membaca tulisan saya di atas dengan baik, maka Anda akan paham maksud saya. Intisari dari tulisan ini bukanlah menempatkan manusia sebagai penentu takdir sepenuhnya, bukan begitu. Allah-lah yang bisa menentukan bagaimana hasilnya.
      Namun pertanyaan yang sering diajukan adalah…
      Mengapa Allah menyuruh kita berikhtiar dan berdo’a padahal segala sesuatunya sudah ditentukan?
      Nah, jawabannya itu ada di tulisan saya di atas.

      Mengenai bayi yang tidak bisa apa-apa, itulah yang disebut takdir mubram, kecuali apa yang terjadi pada Nabi Isa as. Itu sepenuhnya kehendak Allah yang menentukan. Termasuk mengenai kerja organ-organ tubuh di luar kehendak manusia, itu Allah yang menentukan.

      Pertanyaannya adalah, jadi seberapa besar kita berkuasa terhadap diri kita sendiri?
      Menurut pendapat saya, hanya Allah yang tahu jawabannya. Masing-masing orang berbeda penguasaannya. Ada yang waras, ada yang sakit, ada yang gila, ada yang memiliki keterbatasan fisik/mental, ada yang masih bayi, ada yang sudah pikun. Bahkan orang-orang yang waras sekalipun masih berbeda-beda tingkat kekuasaannya. Allah yang mengetahui rumusnya, formulanya, kadarnya.

      Jika saja Allah tidak memberi kekuasaan terhadap manusia untuk memilih takdir(mu’alaq)nya sendiri, maka apa yang dapat kita katakan terhadap para penjahat, para koruptor, para pembunuh, pencuri, pezina, dan pelaku-pelaku maksiat lainnya? Mereka akan berkata: “Inilah takdir saya, nasib saya, ini semua kehendak Allah, Allah yang menentukan saya menjadi seperti ini. Saya tidak bisa mengubahnya.”
      Nah lho?

      Maka dari itu, Allah sebenarnya memberi pilhan takdir kepada manusia sudah dari sananya, dari sebelum kita lahir, mau jadi apa? Ingat Surah Asy-Syams ayat 8-10:
      “…fa’alhamahaa fujuuraha wataqwaha. Qad aflaha man zakkaaha, waqad khaaba man dassaaha…”
      “…maka Allah mengilhamkan kepada jiwa: kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntung bagi yang mensucikannya, dan sungguh merugi bagi yang mengotorinya…”
      Tentukan takdir kita sendiri, hasilnya kita serahkan kepada Allah. :D

      Benar dari Allah, salah dari saya. Walahu a’lam.

  5. trimakasih atas penjelasanya,mohon mf saya kira ini forum tanya jawab,soalny jarang2 ada artikel kyk gini,saya ini orang awam cm minta pencerahan biar agak tenang menyikapi soal takdir, nah itu sbenarny yg mau saya tanyakan,tntang penjahat,saya kadang bingung jg soal manusia yg tidak bertaubat wlw di kasih bimbingan wlw di hukum tpi tidak jera,ada seorang ustad berbicara “antara taufiq dan hidayah Allah,bnyak orang diberi hidayah tpi blm dikasih taufiq.Penjahat,orang kafir,hewan,orang gila,pintar,bodoh,baik,buruk,diciptakan-NYA sbgai kelengkapan dunia,dan sbg contoh jg sbg tanda kekuasaan-NYA yg maha dahsyat,tidak ada yg sia2,terlahir kafir dan sampai akhir hayat kafir,itu sudah ketentuan-NYA,” saya jadi berfikir memang benar nasib itu sudah ditentukan,disisi ALLAH saya itu sebagai wayang terserah kehendak-NYA saya melangkah,tpi di benak saya jg berfikir saya tidak terima jka saya jdi tokoh yg jahat,jdi penempatan2 dan pemilahan pemahaman suatu moment tertentu hrs ditempatkan sesuai maknanya,jdi smentara itu yg saya simpulkan untuk diri saya sendiri,jdi saya merasa tenang dan beruntung ketika saya bisa diberi kefahaman seperti itu,merasa tunduk ketika mengingat akan hal itu,soalny saya kdang gelisah memikirkan akan takdir,seperti gk sampai akal pikir manusia memahaminy,mohon tanggapanya

    • gapapa, saya malah senang ada yang menanggapi dan mengajak saya diskusi seperti ini. Ilmu saya sedikit, saya butuh feedback untuk menambah ilmu supaya tahu mana yang benar dan koreksi supaya tahu mana yang salah. :D

      Saya juga pernah bertanya-tanya mengapa Allah menakdirkan seseorang dari lahir kafir sampai mati pun tetap kafir, apalagi jika orang tersebut tidak dapat akses hidayah. Kasihan, seperti contohnya orang-orang yang tinggal di pedalaman sana yang tidak tahu dunia luar, mereka memuja batu, gunung, pohon, dan sama sekali tidak tahu apa itu Islam dan siapa itu Allah. Atau seperti kakek dan paman Rasulullah yang tetap dianggap kafir padahal jasanya terhadap Rasulullah sungguh besar.

      Tapi itu semua kehendak Allah, dan Allah mengetahui apa yang kita tidak ketahui.

      Dunia ini memang panggung sandiwara, di mana Allah sebagai sutradara dan penulis skenario sedangkan kita sebagai aktor. Namun skenario yang ditulis Allah tentu tidak sama dengan skenario yang ditulis oleh manusia. Allah yang mengatur jalannya sandiwara, menentukan set, dan menentukan kapan harus mulai dan kapan harus berakhir. Kita sebagai aktor hanya bisa memerankan dan memilih peran yang disediakan untuk kita, dan tentunya diberi kekuasaan untuk berimprovisasi sedikit melenceng dari alur cerita, dan meminta kepada Allah untuk mengubah cerita.

      Sekali lagi, Allah mengetahui apa yang tidak ketahui. Tulisan saya di atas hanya upaya saya untuk menggambarkan konsep takdir. Ya semoga saja benar. :D

  6. Anda sudah menonton fim “Back to the Future” (trilogi)? Film komedi ini menurut saya juga menggambarkan pilihan-pilihan keputusan mirip dengan yang anda buat di atas. Bagi yang sudah menonton saya ingin tahu komentarnya

  7. kmaren tgl 27/28 sya ikut forum, yg mndikusikn tentang takdir, dri hsil diskusi itu,ksimpulan’a gni.,
    Takdir iti arti’a ktentuan/ketetapan,.
    Alloh hanya membri qta 5 ktentuan yaitu,.
    Proses (dlahirkn, lalu psti akn mati)

  8. kan ilustrasi mas adalah pilihan dari kesempatan, jadi kita bebas memilih nuh mas? Dari ilmu yang masih sedikit yang saya kuasai, Allah itu yang membolak-balikan hati kita, jadi misal kita memilih naik sepeda motor, itu Allah yang membisikkan untuk naik motor ke hati kita,… mari kita diskusikan mas… Insyaallah dapat hikmahnya… Jazakumullah

    • Misalkan kita ada kesempatan untuk mencuri atau tidak mencuri, dan ternyata kita memilih untuk mencuri. Apakah Allah yang membisikkan ke hati kita untuk mencuri? Saya pikir itu pilihan kita sendiri. Allah mengilhamkan kepada jiwa: kefasikan dan ketaqwaan, beruntunglah bagi yang mensucikannya, merugi bagi yang mengotorinya. Wallahu a’lam.

  9. ” Dari Abu Abdul Rahman, Abdullah bin Mas’ud r.a, katanya Rasulullah SAW telah menceritakan kepada kami, sedangkan baginda seorang yang benar dan dibenarkan kata-katanya, sabdanya : ‘ Sesungguhnya sesaorang kamu dikumpulkan kejadiannya dalam perut ibunya selama 40 hari berupa setitik air mani, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian seketul daging seperti yand demikian itu juga, iaitu 40 hari. Kemudian diutuskan kepadanya malaikat, lalu ditiupkan roh kepadanya dan diperintahkan menulis empat pekara : rezekinya, ajalnya, amalannya, celaka dan bahagianya. Maka demi Allah yang tiada Tuhan selain daripadaNya, sesungguhnya sesaorang kamu itu tetap akan beramal dengan amalan ahli syurga sehinggalah di antaranya dengan syurga itu jaraknya cuma sehasta sahaja. Tiba-tiba dia telah didahului oleh tulisannya ( suratan takdir ) sehingga dia beramal dengan amalan ahli neraka, maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan sesungguhnya sesaorang kamu tetap akan beramal dengan amalan ahli neraka sehinggalah di antara dirinya dengan neraka cuma sehasta saja. Tiba-tiba dia telah didahului oleh tulisannya sehingga dia beramal dengan amalan ahli syurga, maka akhirnya masuklah dia ke dalam syurga itu. maaf mas mohon pencerahan atas hadist di atas,saya belum paham”…dia telah di dahului oleh tulisannya(surat takdir)…” bagaimana menyikapinya??

    • Setiap manusia diberi kebebasan untuk memilih apa yang akan ia kerjakan dalam koridor ketentuan Allah. “Tulisannya” yang dimaksud adalah pilihan yang diberikan Allah untuk beramal ahli surga ataupun beramal ahli neraka. Bukan tulisan seperti buku cerita yang mengalir dalam satu alur. Itu pendapat saya. Trims.

  10. Terima Kasih atas penjelasanya.
    Saya kok kurang setuju, jika takdir di analogikan seperti di atas.

    A=aB+X

    Saya bertanya : Besar mana X atau B ? Jika suatu kejadian A itu sudah terjadi kita akan ngomong apa????

    1. “Ini adalah takdir Allah Subhanahu Wa TaAla”.
    Jadi kesimpulan nya A=X ( Semua telah diatur oleh Allah )

    Atau kita akan ngomong

    2. ” Ini usaha saya” berarti A=B ( Hamman bangeeet )

    Atau

    3. ” Inikan usaha saya, Alloh mengabulkan apa yang saya usahakan”
    Berarti B>X ( apa ini namanya tawakal atau kesombongan )

    Jadi kita pilih jawaban mana?

    saya kok lebih cocok dengan jawaban no 1. A=X ( The final result is absolute from Allah).

    Apalagi jika belum terjadi : masih sangat relatif dan hanya Allah yang tahu.
    It’s so secret, no body knows. We just believe to Alloh & our effort exactly meaningless compare what we have got. what ever the result.

    Apakah dengan kita belajar rajin anda bisa pastikan pandai dan pintar. Not really.
    Kita males dan tidak mau belajar rajin. kita belajar rajin adalah bagian dari ketetapan Allah sendiri.

    I Apologize if any, my word. If you have any other opinion exactly your choice an this part of Qodar Alloh.

    • terima kasih juga tanggapannya.
      dari ketiga pilihan yang Anda berikan, menurut hemat saya, jawaban no.1 lah yang paling tepat (takdir mubram). Analogi yang ada di tulisan di atas tidak cocok dengan no.2 karena Allah selalu menentukan hasil akhirnya dengan kehendaknya(yang saya lambangkan dengan variabel X). Begitu pula no.3, karena kita tidak tahu apakah B>X ataukah BX adalah orang yang sombong. Jadi, saya setuju dengan tanggapan Anda.

  11. Menurut sy rumus A=2B+1+X masih kurang tepat. Karena X di sini hanya pelengkap. Bagaimanapun Allah adalah penentu. Tidak ada yg luput dari ilmu-Nya. Jangankan urusan manusia, bahkan jatuhnya daun dari pohon di hutan yang gelap, senantiasa dalam ketentuannya. Maka Allah bukanlah sekedar pelengkap dari takdir melainkan penentu. Sehingga rumus yg tepat jika merujuk rumus Anda adalah A=(2B+1)*X. Faktor X di sini adalah penentu. Jika X=0 (artinya Allah tidak menghendaki) maka A=0. Jika X>0 (Allah menghendaki) maka A>0 (terjadilah apa yg terjadi). Demikian pendapat saya.

    Berbicara tentang takdir saya suka menyimak ceramah Aa Gym dengan judul “Bagaimana agar hidup diurus oleh Allah SWT” di Youtube.

  12. Alloh bersifat mungkin.
    Alloh menetapkan takdir tidak hanya satu dimensi, tetapi Alloh tetapkan takdir dari berbagai kemungkinan takdir dari takdir yang kita jalani sebelumnya.

  13. terima kasih untuk artikelnya, ada sebuah case antara saya dan temen saya yg non muslim , dia bertanya..”jadi klo menurut lauhul mahfudz saya ini orang2 yang celaka dong?? karena saya tidak bisa yakin untuk pindah agama saya?? berarti tuhanmu ini ingin saya celaka?? ya saya jawab ya,..kalo mnrt islam, klo kamu udah denger dan tau mana yang bener tp tetep nggak mau berubah, ya kamu termasuk orang yg celaka,………sejak diskusi itu temen saya marah, berhubung pemahaman agama saya yg blm baik, bagaimana seharusnya saya menjelaskan tentang lauhul mahfudz agar saya bisa menjalin silaturahmi yg baik dalam hal hablu minan nas saya,..mohom di bantu..

    • kalo debat dengan penganut agama lain emang mesti hati-hati soalnya masalah agama kan sensitif. Menurut saya lebih baik pake analogi bahasa pemrograman atau minimal rumus logika IF excel, insyaAllah bisa nyambung. :D

  14. kalau menurut pendapat saya…takdir dan nasib merupakan dua hal yg berbeda (bisa dicek dalam bahasa AQ)..takdir adl ketetapan-ketetapan Allah (seperti rumusan2 kehidupan A = 1+2+3+4 B= 5+6+7+8–> rumusan pandai mis A, rumusan bdoh misal B, rumusan bencana C, rumusan kemaslahatan D, dan masih banyak lagi variasi rumusan yg Allah miliki yg mungkin kt kenal dg istilah sunnahtullah). sedangkan nasib adalah segala peristiwa yg menimpa dalam diri manusia (misal menjadi pintar, menjadi bodoh, menjadi sakit, menjadi kaya)..dalam hal ini takdir hanyalah Allah yang menetapkan, sedangkan nasib (memilih salah satu rumusan takdir, apakah memilih jadi pintar ataukah bodoh, itu manusia lah yg menentukan). oleh karenanya mengapa ada surga dan neraka dan manusia akan dimintai pertanggungjawaban krn manusia dibekali kemampuan dan kemauan memilih jalan hidupnya…semoga hal ini bisa membantu dalam memahami konsep takdir dan nasib…Amin

    • memang masih ada perbedaan pendapat tentang istilah takdir dan nasib, tapi sebenarnya esensi pemahamannya sama: ada sesuatu yang dapat diubah, dan ada sesuatu yang tidak bisa diubah.

  15. assalamu’alaikum wrbw. Terimakasih atas penjelasannya dan saya dapat menerima dengan baik di pikiran saya.Salut anda bisa menjabarkan hal tersebut dalam bentuk persamaan matematika. Subhanallah. Wallahua’lam

  16. Bagaimana dengan gambaran Takdir berkenaan dengan jodoh… bagaimana bisa anda jelaskan seperti pada bagan di atas (Choice of Chance) supaya saya dapat memahami dengan mudah karena adanya ilustrasi… terima kasih

  17. Saya suka ijtihad Anda. Saya juga suka ijtihad Emha Nafi (Mungkin karena sama dengan pandangan Saya) A=(2B+1)X, Di mana A=Taqdir Muallaq, B=Usaha Manusia, 1=Berdoa, dan X=Izin Allah. Meskipun mungkin formula sebenarnya bukan seperti demikian.

  18. detail ya ^^
    sya punya teori jg ttg domino causa prima ( bisa pnjng ni ) intinya konsep free will sklipun trmuat dlm dominoNya krena sejatinya Ia tahu awal dan ‘akhir’
    trims share nya bung.

  19. Allah swt Maha Tahu, Maha Esa, dan satu. Allah swt adalah pencipta, kita semua adalah Makhluk. Kita ada karena kehendak Allah. Kita hidup ini hanyalah menjalani Takdir Allah, sesudah itu mati, dan Hidup lagi… Masuk surga atau Neraka terserah kpd Allah swt.
    Pertanyaan saya: Kalau Allah ternyata kita ridho masuk Neraka, apa kita bisa Ridho? Jawabnya adalah Harus Ridho.
    Kita ini cuma makhluk, kita lemah. Ga usah terlalu pusing dg memikirkan takdir, jalani saja dg baik sesuai tuntunan dan petunjuk yg sdh Allah swt kasih ke kita, yaitu Al-Quran… Insya Allah kita selamat.
    Kalaupun ternyata di akhir hayat kita ditakdirkan masuk neraka… Toh itu sudah hak Allah swt, terserah kpd Allah krn dia Tuhan, Dia Khalik, Dia yg menciptakan.
    Ingat kawan, dunia ini cuma permainan, dunia ini cuma menipu, dunia itu sementara. Semua terserah Allah swt. Ada 1000 kali dunia pengulangan, ada 1000 kali kiamat yg sudah terjadi… Kita tidak pernah tahu, Allah swt yg Maha Mengetahui. Allah berkerhendak, terserah kpd Allah swt, kita menjalani takdir dg baik, benar, dan pasrah.
    Hidup di dunia tidak kekal, semua yg bernyawa pasti mati, lalu hidup lagi di Akhirat, di Surga atau Neraka kekal untuk selama-lamanya, semua sesuai kehendak Allah swt. Setelah kekal di Akhirat tsb Kalau Allah swt mau menjadikan dunia, pengulangan lagi, atau apapun namanya… Ya terserah kpd kehendak Allah swt.
    Allah swt hanya memberikan ilmu dan pedoman hidup di Al-Quran untuk kita mempelajarinya.
    Akhirnya, diskusi dan perdebatan ini tdk akan ada kesimpulan utk memuaskan masing-masing pembaca.
    Ingat, jangan mempersempit kehendak Allah swt dg argumen, asumsi, dan akal manusia yg terbatas.
    Ketidakmampuan kita dalam menjawab masalah takdir menunjukkan bhw Allah swt Maha Kuasa, Allah memperlihatkan keterbatasan akal pikiran manusia, yakinlah kita tdk akan mampu menandingi Allah swt. Kita ini cuma makhluk, Kita bukan Tuhan.
    Apapun itu jalanin aja yg bisa membuat Allah swt Ridho.
    Dalam takdir itu tidak ada rumus-rumus, tdak ada perumpamaan2 ini dan itu. Takdir adalah kehendak Allah swt, jalani saja. Pelajari Al-Quran, praktekkan dlm hidup, selebihnya berusaha dan berdoa, krn hal itu adalah bagian dari takdir.
    Kasus Terakhir: Apa kita pernah kita ingat perjanjian setiap makhluk sebelum diciptakan – masih di alam Ruh – (hanya Allah swt yg tahu) bhw semua makhluk itu bersyahadat kpd Allah swt? Jawabnya: kita tdk akan sanggup, krn Allah swt berkehendak untuk mengunci memori ingatan itu kpd kita. Lalu kita mau ngapain? Mau protes? Ga bisa kawan, ingat hal2 goib tsb adalah Hak Allah swt.
    Masuk Neraka atau Surga bukanlah tujuan, tujuan kita adalah Ridho Allah swt. Allah menciptakan jin dan manusia hny utk beribadah kpd – Nya, dan semua ciptaan Allah swt tdk lah sia-sia. Ada banyaka agama, Islam, Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, dll… Ya itu kehendak Allah swt.
    Saya yakin, anda. Membaca tulisan saya ini jg krn Kehendak Allah swt.
    Dan kalaupun di benak dan pikiran anda muncul lagi banyak pertanyaan2 dan keraguan2? Yakinlah 100% bhw hal tsb adalah kehendak Allah swt.
    Manusia tempatnya salah, dan kehendak Allah swt membuat manusia demikian. Kebaikan, kejahatan, malaikat, iblis, surga, neraka, hidup dan mati, dan Makhluk2 Goib lainnya…semua ada krn kehendak Allah swt. Lalu Allah swt ada di mana? Jawabnya: Allah swt Satu, tidak beranak dan tdk diperanakkan. Ingat, Allah swt berbeda dg Makhluk. Melihatnya Allah tdk diasumsikan sama dg melihatnya manusia. Mendengarnya Allah tdk lah sama dg pikiran kita bhw Allah swt punya telinga. Allah duduk di Arsy tdklah sama dg bayangan kita ttg posisi duduk. Semua itu Goib, hanya Allah swt. Allah tdk butuh ruangan, tdk tergantung dg apapun, tdk berawal dan tdk berakhir… Jadi apa dong klo gitu? Jawabnya: Ga usah berpikiran terlalu jauh demikian, yakinlah kita tdk akan sampai ke sana, semua itu kehendak Allah swt.
    Ada hal-hal yg bisa terjawab dg akal dan hal-hal di luar kuasa akal manusia.
    Ingat, bahwa Allah swt adalah Tuhan yg Esa, Allah itu Khalik (Pencipta)… Di luar Allah swt adalah makhluk, apapun itu.
    Jadi menurut saya, takdir makhluk (termasuk takdir kita manusia) sdh ditentukan oleh Allah swt. Iblis sbg makhluk saja sdh ditakdirkan Allah utk masuk neraka, semua adalah kehendak Allah swt, kita ini lemah.
    Jika Allah Ridho, Jika Allah berkehendak… Apapun bisa terjadi, apapun tdk akan bisa terjadi, semua terserah kpd Allah swt. Jadi bersyukur saja kita sdh diciptakan utk menjalani Takdir Allah.
    Akhir kata, selamat menjalani takdir di dunia ini dg baik dan benar, termasuk saya. Apakah kita ketemudi surga atau di neraka nanti… Semua tergantung Ridho Allah swt.
    Allah swt Maha Mengetahui. Saya dan Anda hny diberi pengetehuan sedikit saja. Jalani saja takdir ini dg usaha dan doa, dg baik dan benar, Insya Allah. Amin yra.

  20. Kepunyaan’nya apa yg ada d langit Dan bumi tiada yg dapat memberi syafaat d sisi Allah tanpa izinnya?
    Allah mengetahui apa2 yg ada d hadapan dan d belakang mereka
    dan mereka tidak mengetahui apa2 dari ilmu Allah. Melainkan yg d kehendaki…assalamualaikum

  21. D={(2E+C+P+1)-(SxT)}*X
    ket. :
    D:Takdir Allah
    E:Effort/ikhtiar
    C:Choosing/memilih
    P:Praying/Do’a/Ibadah
    S:Sin/dosa2
    T:taubat/nol adalah nilai konstanta taubat terbaik dan hanya Allah yang Tahu hasil taubat kita
    X:ALLAH MAHA BERKEHENDAK

    mungkin begitu, hehehehee…sekali lagi hasil akhirnya hanya Allah yang Tahu, jangan memandang dari sudut pandang matematika duniawi yang eksak menurut pandangan akal manusia, pandanglah dari sudut pandang matematika ilahiah…
    hanya berpendapat

  22. Spt kata Quraish Shihab..takdir itu sistem dan manusia adalah pelaksana dr sistem. Sistemnya sdh baku sementara bagaimana sistem itu di laksanakan tergantung si manusianya.
    Contohnya: batu kalau di lempar pst akan jatuh (sistem)… sejauh mana batu itu di lempar tentu tergantung yg lempar (pelaksana).
    Contoh lain: shalat itu sistem…bagaimana shalat di laksanakan tergantung pelaksanannya.

    Lalu apa hubungan takdir dengan usaha.

    Manusia disuruh Allah berusaha dan berdoa bukan utk merubah atau mempercepat atau menunda suatu takdir. Tapi karena Allah ingin melihat manusia menjalankan sistem atau takdir yg dibuat oleh Allah tsbt.. meskipun hakikatnya Allah sdh tahu hasil akhirnya. Dan manusia dilarang menebak nebak apa hasilnya….pokoknya jalani saja.

    Sama spt jika anda menciptakan sesuatu maka itu hrs di jalankan dan anda sbg penciptanya tentu sdh tahu apa hasilnya.

    Sistem yg mapan adalah sistem yg sangat kompleks yg saling berhubungan….Allah sbg sang maha pencipta sistem (takdir) tentu tdk akan menciptakan sesuatu yg sederhana spt: jika shalat trs masuk surga.

    Menjelaskan urusan agama memang bisa sangat rumit krn mencoba menyatukan bumi dan langit. Sangat subjective krn tergantung kadar pemahaman masing2.

    Tapi bisa juga sangat mudah dengan menyadari bahwa rahmat Allah ada di dalam segala hal. Just do it…do it right.

  23. TakdirKita tahu setelah terjadi (jadi tdk bisa kita ubah krn tdk tahu apa yg akan terjadi pada kita). Tugas kita sebgmn diperuntahkan tuhan adl ihktiar/berusaha. Hasil terserah tuhan. Kita tdk berhak menyetir hasilnya krn hal itu wilayah tuhan.

  24. sering2 membaca tafsir Al-Qur’an bisa membantu memahami maksud Allah pada kita,smua yg mau di tanya ada di Al-Qur’an,sabar dalam membacanya dan pahami sesuai kemampuan kita,maka kita akan tenang,
    pembahasan mas Fachri sangat bagus menurut saya dan yg lain tentunya,dan sya jg pernah d ajarkan dgn dosen sya bahwa takdir itu mmg ada 2,yg dapat diubah dan tidak dapat d ubah,
    yg dapat diubah itu seperti kecerdasan,kekayaan,ketaatan yg sifat-a itu seperti proses menuju suatu titik,
    yg tidak dapat diubah itu kelahiran dan kematian.
    ini dari pemahaman saya berdasarkan informasi dosen sya sih mas,moga2 bisa sebagai renungan, :)

    • Makasih :)
      Saya juga masih belajar. Tulisan ini adalah kesimpulan dari apa yang saya pelajari dan pahami selama ini, entah benar atau tidak, kembali ke Allah. Mudah-mudahan bermanfaat.

  25. bung,,, apa anda yakin ungkapan anda,,,,
    kalo emg usaha yang anda lakukan 100 belum tentu anda akan kaya,,,
    Allah mungkin saja tetap membuat anda miskin,,,
    anda tak bisa memastikan apa yang akan anda dapatkan kedepan,,,
    Allah punya hak atas semua yang terjadi terhadap diri mahkluknya,,,
    dan itu telah ditetapkan,,, jodoh, maut, rezeki, dan hidup,,,
    kita hanya bergerak menuju-Nya,,,
    bergerak dengan iman atau bergerak tanpa iman,,,

    • A=2B+1+X
      Dalam hal rizki, jika usaha saya B=100 dan Allah berkehendak X= 10000000000000000, mungkin saya langsung kaya mendadak.
      Tapi jika Allah berkehendak X=-1000000000000000, saya langsung miskin mendadak.
      Semua itu tergantung pada Allah, tapi bukankah Allah melihat usaha kita juga untuk menentukan sesuatu?
      Semoga jadi manfaat.

  26. Assalamualaikum,
    jalan takdir atas pilihan pilihan yang kita buat juga yang akhirnya membawa saya kemari mas. saya juga memiliki konsepsi yang kurang lebih sama dengan pemikiran di atas. saya lebih suka menyebutnya dengan teori probabilitas. namun saya memang tidak terpikir untuk mem-posting tulisan2 seperti itu di blog salah satu faktornya adalah ilmu yang masih sangat dangkal. tapi setidaknya inilah yang saya yakini sebagai takdir. kita tidak berjudi, tapi meng-kalkulasi setiap kesempatan untuk mendapat sebaik baik hasil. Bukan mengecilkan peran Tuhan, tapi inilah bentuk ke-Maha-an kuasa dia, setiap kemungkinan di setiap detik.
    Kemudian, saya juga berfikir bahwa takdir manusia tidak hanya terletak pada diri sendiri, tapi berkait dengan orang lain, dimana kesempatan kesempatan itu yang mempertemukan garis satu orang dengan garis yang lain, orang menyebutnya dengan kebetulan, tapi bagi saya kebetulan itu tidak ada, melainkan dua keharusan yang bertemu pada satu titik. Maka itu, takdir seseorang juga ditentukan oleh takdir orang lain.
    ini sekedar berbagi pandangan saja mas, walau cuma sedikit garis besarnya saja.
    semoga berkenan

    wassalam

    • Alaikumussalam.
      Alhamdulillah ada yang sependapat. Saya sebenarnya juga bukan seorang yang berilmu, saya membuat tulisan ini cuma untuk mengeluarkan unek-unek saja.
      Yap, saya setuju, takdir kita bukan hanya dipengaruhi oleh keputusan diri sendiri, tapi juga dipengaruhi oleh keputusan orang lain. Sedangkan yang menentukan? Tetap saja Tuhan. :)

  27. Assalammualaikum,, Untuk lebih bijak nya memahami tentang takdir ada baiknya mengenal Allah lebih dekat melalui pemahaman tentang segala sifat-sifat kesempurnaan Nya. InsyaAllah nanti pemahamannya bakal tambah lurus. Ada 99 Asma’ul Husna, dan ada 20 Sifat Allah. Semua itu diterangkan dengan jelas di dalam Al-Qur’an. Segala sesuatu yang ditakdirkan Allah kepada Manusia adalah baik. Karena Allah maha Adil. Sebesar biji zarah pun tidak akan pernah luput dari pengamatan Allah. Allah meng ilhamkan dengan qudrat nya kepada manusia, dimana manusia bisa memiliki kecendrungan untuk berbuat baik dan juga kecendrungan berbuat melanggar hukum Allah. Untuk itu lah ada nya surga dan neraka. Perbuatan baik dengan dasar ketakwaan kepada Allah akan dibalasi surga. Intinya pelajari Al-Qur’an, insyaallah pemahaman nya akan tambah dalam. Pemahaman tentang sifat Allah akan membuka pemahaman yang luas tentang takdir. Karena tanpa memahami sifat Allah, akan banyak pendapat yang muncul bertentangan dengan sifat Allah. Sedangkan dari 99 Asma’ul Husna itu tidak ada yang bertentangan satu sama lainnya.
    Bukankah Allah selalu berkehendak dengan seadil-adil nya karena sifat Nya yang maha adil. Sungguh terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berfikir.

  28. sbnarx sifat yg brsifat wujud i2 Allah apa mahluk? setau sy Allah brslahan dgn mahlukx. knp kt yg mw rubh isi kitabNya? apapun yg blum terjadi i2 sdh terjdi.

  29. Pingback: Takdir; Kejam tapi Sungguh Adil (2) | PERJALANAN SUNYI

  30. assalamu’alaikum.

    met malam, pak. mau minta izin, hehehe… barusan saya posting masalah takdir di blog saya dengan meminjam ilustrasinya dari blog ini. saya juga mengutip sedikit tulisan bapak. seandainya bapak tidak berkenan, nanti akan saya hapus.

    wassalam.

  31. Salam,

    artikel ini kelihatannya pendapat perorangan bukan pendapat dari agama, karena menurut agama apapun penjelasannya kesimpulannya tetap yaitu segala sesuatu ditetapkan oleh Allah termasuk hal yang buruk.

    maka mau tidak mau takdir adalah fitnah bagi Allah.

    matematika itu persamaan, ruas kiri sama dengan ruas kanan.
    faktor X adalah keterbatasan manusia dalam menghitung persamaan tersebut.

    namun permasalahannya agama tidak mau mengakui hal yang bisa membuat nama agama itu dicemooh dan itu yang berbahaya karena seperti si Iblis dulu pernah lebih memilih harga dirinya namun akibatnya perintah Allah dilanggar karena mementingkan nama baik dirinya sendiri (QS. Al Hijr [15] 26-33)

    sehingga muncul tantangan bagi agama, jika agama dari Allah maka akan lebih mementingkan nama baik Allah bukan nama baik Agama.

    dengan rumus yang sama yaitu jika 1kg cabe harganya 10rb maka 2kg cabe harganya 20rb.

    jika berminat melihat bukti-bukti ayat AlQuran sehubungan takdir adalah fitnah bagi Allah maka silahkan saja akan saya tunjukan.

    semoga kita semua jauh dari fitnah bagi Allah karena dalam bahasa Yunani pemfitnah yaitu di-a’bo-los dan dalam bahasa Arab yaitu Iblis.

    karena AlQuran cukup sanggup menjawab fitnah bagi Allah yang Maha Pengasih dan Maha Adil serta Bijaksana.

  32. tulisan yang bagus, membuka wawasan dan mencerahkan pertanyaan yang sama “ngapain kita dihidupkan apabila Alloh sudah mengatur semuanya..???”

    nuhun.. mohon izin untuk dijadikan referensi..

  33. Pingback: Mau Pilih yang Mana? | Somewhere Over the Rainbow

  34. Terima kasih untuk materinya pak, dan semua yang udah comment di atas.. :P
    Diskusi di atas lumayan mampu untuk menambah pemahaman saya tentang arti sebenarnya dari takdir dan nasib.. dan lauhul mahfuz :P

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s